This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 06 Juli 2013

Ketika Semangat Kian Memudar


Kulihat sepinya sebuah peradaban
Ketika sepinya kegiatan dibarengi kesepian semangat
Inilah potret para pengemban peradaban
Yang ukhuwahnya sudah mulai memudar

Kulihat gersangnya semangat pewaris kejayaan
Duduk termenung penuh kesenduan
Seakan-akan habis ikut muhasabah seharian
Lantaran sepinya komitmen kedatangan jundi-jundi pilihan

Kulihat generasi pilihan semakin suka menyendiri
Seakan-akan surga untuknya sendiri
Tak peduli lagi dengan keadaan teman seperjuangan
Yang tertatih letih atasi masalah yang ganas menerjang

Kulihat pewaris tahta dakwah mulai lelah
Menanggung beban yang semakin payah
Kulihat nyali jundi-jundi dakwah tak lagi merah
Karena digerogoti nyali putih yang kuat mewabah

Kulihat lisan-lisan tak lagi berkata
Saudaraku ke mana kau melangkah selama ini
Sudah lama ku tak lihat wajahmu di sisi
Adakah beban-beban yang menggelayut di hatimu
Ceritakanlah dan aku akan setia mendengarkannya
Ungkapkanlah boleh jadi aku bisa meringankannya
Atau minimal berat beban di punggungmu terkurangi

Kulihat Hp-hp kita semakin mahal harga belinya
Tapi anehnya semakin murah kegunaannya
Tak lagi hp ini digunakan untuk mengirim sebait taujih
Mengalirkan kesejukan doa untuk sirami hati yang gersang
Mengirimkan secercah cahaya untuk sinari hati yang gulita

Kulihat tangan kita mulai jarang bergandengan
Ku juga mulai melihat kaki jarang berjalan beriringan
Mungkin karena kesibukan yang mulai menggeruskan kebersamaan
Atau keinginan menikmati sepi di tengah keramaian

Kudengarkan curahan hati sebuah masjid
Saudaraku, katakanlah pada yang lainnya
Aku mulai merasa kedinginan dan kesejukan yang meremukkan tulang
Tak ada lagi kebersamaan tamuku yang menghangatinya
Kini tamuku tak betah berlama-lama
Sehabis menumpang shalat mereka segera meninggal kau sendiri
Tak ada lagi tegur sapa di antara tamu-tamuku itu
Bahkan terkadang kudapati sekedar salam pun tak
Sempat diucapkan sesama mereka

Dimana kehangatan ukhuwah mereka dahulu
Saat bersama-sama membersihkan karpet dan lantaiku
Saat bersama-sama saling menanya kabar
Saat bersama-sama mendengungkan lantunan Qur’an
Saat bersama-sama merembukkan suatu persoalan

Kudengarkan kisah mereka yang saling menyalahkan
Tapi tak ada upaya untuk saling membetulkan
Kudengarkan mereka mulai berbicara militansi yang hilang
Tapi tak pernah sungguh-sungguh untuk mengembalikan keadaan

Kudengarkan keluh kesah mereka
Menangisi perubahan keadaan
Kulihat semangat itu mulai kembali menyepi
Sesepi perubahan kehidupan alam saat malam menjelang



Jangan Dilupakan Tapi di Ikhlaskan


Sebuah Puisi

Terus terbayang mengoyak pikiran
Sendu kala berjuang dulu
Tangis dalam perjalanan lalu
Kecewa saat semangat dan langkah menyatu
Pikiran melayang jauhi impian
Seakan bumi enggan mengasihi
Takut melihat wajah dunia kini
Malu menatap jubah perang tertanggalkan
Rindu akan hadirnya Illahi
Dalam nafas jiwa raga diri
Ingin rasanya mencari
Jarum harapan dalam jerami kalbu
Sekali mencoba cermin tak terjaga
Memantulkan kembali kematian hati saat dahulu
Terus merambat hingga denyut nadi
Cepat, cepat tak tertahan
Menolehkan muka ke tanah
Berharap sinar mentari datang
Atau cahaya rembulan tak padam
Atau nyala lentera peradaban
Beribu kali terulang
Bangkit tak bisa
Bangun tak mampu
Hanya karena suramnya masa lalu
Ingin dilupakan namun tak mampu
Karena terlalu manis
Serta terlalu pahit
Untuk dihilangkan dari ingatan
Maka sekali-sekali tak akan dicoba lagi
Energinya mubazir
Menjadi semakin terpatri di dalam otak ini
Bukannya menghilang
Mendalami setiap titik tragis perputaran roda
Menggali cermin untuk masa depan berkilau
Itulah sewajarnya
Tak usah melakukan apa-apa
Diam, diam dan maju ke depan
Membawa asa gapai impian
Menoleh ke belakang sebagai rambu perjalanan
Untuk menghindari lubang hitam kekalahan
Maka jangan dilupakan
Tapi diikhlaskan


Atasi Marahmu, Raih Ridho Allah




Penulis : Ustadz Abdullah Taslim. MA

Siapapun kita, tentu pernah merasakan marah, bahkan mungkin tidak jarang kita merasakan kemarahan dan emosi yang sangat.

Memang sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan enggan untuk diselisihi keinginannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah”[1].

Bersamaan dengan itu, sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya[2].

Oleh karena itu, hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa, meskipun mereka tidak luput dari sifat marah, akan tetapi kerena mereka selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu, maka merekapun selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Ta’ala.


Allah Ta’ala memuji mereka dengan sifat ini dalam firman-Nya:

{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}

“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).

Artinya: jika mereka disakiti orang lain yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan mereka (melampiaskan kemarahan), akan tetapi mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka[3].

Keutamaan menahan marah dan mengendalikan diri ketika emosi
Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  « لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »

“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”[4].


Inilah kekuatan yang terpuji dan mendapat keutamaan dari Allah Ta’ala, yang ini sangat sedikit dimiliki oleh kebanyakan manusia[5].

Imam al-Munawi rahimahullah berkata: “Makna hadits ini: orang kuat (yang sebenarnya) adalah orang yang (mampu) menahan emosinya ketika kemarahannya sedang bergejolak dan dia (mampu) melawan dan menundukkan nafsunya (ketika itu). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini membawa makna kekuatan yang lahir kepada kekuatan batin. Dan barangsiapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika itu maka sungguh dia telah (mampu) mengalahkan musuhnya yang paling kuat dan paling berbahaya (hawa nafsunya)”[6].
 


Inilah makna kekuatan yang dicintai oleh Allah Ta’ala yang disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah”[7].

Arti kuat dalam hadits ini adalah kuat dalam keimanan dan kuat dalam berjuang menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah Ta’ala[8].

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya”[9].

Imam ath-Thiibi rahimahullah berkata; “(Perbuatan) menahan amarah dipuji (dalam hadist ini) karena menahan amarah berarti menundukkan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan, oleh karena itu Allah Ta’ala  memuji mereka dalam firman-Nya:
{وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134)”[10].

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini: “…padahal dia mampu untuk melampiaskannya…”, menunjukkan bahwa menahan kemarahan yang terpuji dalam Islam adalah ketika seseorang mampu melampiaskan kemarahannya dan dia menahnnya karena Allah Ta’ala[11],
adapun ketika dia tidak mampu melampiaskannya, misalnya karena takut kepada orang yang membuatnya marah atau karena kelemahannya, dan sebab-sebab lainnya, maka dalam keadaan seperti ini menahan kemarahan tidak terpuji.

Seorang mukmin yang terbiasa mengendalikan hawa nafsunya, maka dalam semua keadaan dia selalu dapat berkata dan bertindak dengan benar, karena ucapan dan perbuatannya tidak dipengaruhi oleh hawa nafsunya.

Inilah arti sikap adil yang dipuji oleh Allah Ta’ala sebagai sikap yang lebih dekat dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman:
{وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ على أَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى}

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS al-Maaidah:8).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan seorang ulama salaf yang menafsirkan sikap adil dalam ayat ini, beliau berkata: “Orang yang adil adalah orang yang ketika dia marah maka kemarahannya tidak menjerumuskannya ke dalam kesalahan, dan ketika dia senang maka kesenangannya tidak membuat dia menyimpang dari kebenaran”[12].

Menahan marah adalah kunci segala kebaikan
Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta nasehat beliau. Orang itu berkata: Berilah wasiat (nasehat) kepadaku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau marah”. Kemudian orang itu mengulang berkali-kali meminta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjawab: “Janganlah engkau marah”[13].

Orang ini datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta nasehat yang ringkas dan menghimpun semua sifat baik, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya untuk selalu menahan kemarahan. Kemudian orang tersebut mengulang permintaan nasehat berkali-kali dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama: “Janganlah engkau marah”. Ini semua menunjukkan bahwa melampiaskan kemarahan adalah sumber segala keburukan dan menahannya adalah penghimpun segala kebaikan[14].

Imam Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata: “(Melampiaskan) kemarahan adalah kunci segala keburukan”.

Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Marwazi rahimahullah, ketika dikatakan kepada beliau: Sampaikanlah kepada kami (nasehat) yang menghimpun semua akhlak yang baik dalam satu kalimat. Beliau berkata: “(Yaitu) meninggalkan (menahan) kemarahan”.

Demikian pula imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan imam Ishak bin Rahuyah rahimahullah ketika menjelaskan makna akhlak yang baik, mereka berdua mengatakan: “(Yaitu) meninggalkan (menahan) kemarahan”[15].

Maka perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas: “Janganlah engkau marah” berarti perintah untuk melakukan sebab (menahan kemarahan) yang akan melahirkan akhlak yang baik, yaitu: sifat lemah lembut, dermawan, malu, merendahkan diri, sabar, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, ramah dan sifat-sifat baik lainnya yang akan muncul ketika seseorang berusaha menahan kemarahannya pada saat timbul sebab-sebab yang memancing kemarahannya[16].

Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatasi kemarahan ketika muncul pemicunya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memberi petunjuk kepada orang yang sedang marah untuk melakukan sebab-sebab yang bisa meredakan kemarahan dan menahannya dengan izin Allah Ta’ala[17], di antaranya:

1- Berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan
Dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “(Ketika) aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang laki-laki yang sedang (bertengkar dan) saling mencela, salah seorang dari keduanya telah memerah wajahnya dan mengembang urat lehernya. Maka Rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang seandainya dia mengucapkannya maka niscaya akan hilang kemarahan yang dirasakannya. Seandainya dia mengatakan: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, maka akan hilang kemarahan yang dirasakannya”[18].

2- Diam (tidak berbicara), agar terhindar dari ucapan-ucapan buruk yang sering timbul ketika orang sedang marah[19].

     Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian marah maka hendaknya dia diam”[20].

3- Duduk atau berbaring, agar kemarahan tertahan dalam dirinya dan akibat buruknya tidak sampai kepada orang lain[21].

Dari Abu Dzar al-Gifari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya dia duduk, kalau kemarahannya belum hilang maka hendaknya dia berbaring”[22].

4- Merenungkan kemahakuasaan dan kemahaperkasaan Allah Ta’ala, serta kerasnya siksaan-Nya bagi orang yang melanggar ketentuan syariat-Nya.

Dari Abu Mas’ud al-Badri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud!”. Tapi aku tidak mengenali suara tersebut karena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku maka ternyata dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau yang berkata: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, ketahuilah wahai Abu Mas’ud!”. Maka akupun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu daripada kamu terhadap budak ini”, maka akupun berkata: “Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini”[23].

Disamping itu, yang paling utama dalam hal ini adalah usaha untuk menundukkan dan mengendalikan diri ketika sedang marah, yang ini akan menutup jalan-jalan setan yang ingin menjerumuskan manusia ke dalam jurang keburukan dan kebinasaan[24]. Allah Ta’ala berfirman:
{إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُون}

“Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat buruk (semua maksiat) dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS al-Baqarah:169).

Suatu hari, Khalifah yang mulia, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz marah, maka putranya (yang bernama) ‘Abdul Malik berkata kepadanya: Engkau wahai Amirul mukminin, dengan karunia dan keutamaan yang Allah berikan kepadamu, engkau marah seperti ini? Maka ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata: Apakah kamu tidak pernah marah, wahai ‘Abdul Malik? Lalu ‘Abdul Malik menjawab: Tidak ada gunanya bagiku lapangnya perutku (dadaku) kalau tidak aku (gunakan untuk) menahan kemarahanku di dalamnya supaya tidak tampak (sihingga tidak mengakibatkan keburukan)[25].

Marah yang terpuji
Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah”[26].

Inilah marah yang terpuji dalam Islam, marah karena Allah Ta’ala, yaitu marah dan tidak ridha ketika perintah dan larangan Allah Ta’ala dilanggar oleh manusia. Sedangkan marah yang tercela adalah marah karena urusan dunia semata[27].

Inilah akhlak mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selalu ridha dengan apa yang Allah ridhai dalam al-Qur’an dan benci/marah dengan apa yang dicela oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an[28].

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sungguh akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an”[29]. Dalam riwayat lain ada tambahan: “…Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah/benci terhadap apa yang dibenci dalam al-Qur’an dan ridha dengan apa yang dipuji dalam al-Qur’an”[30].

Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Wajib bagi seorang mukmin untuk menjadikan keinginan nafsunya terbatas pada apa yang dihalalkan oleh Allah baginya, yang ini bisa termasuk niat baik yang akan mendapat ganjaran pahala (dari Allah Ta’ala). Dan wajib baginya untuk menjadikan kemarahannya dalam rangka menolak gangguan dalam agama (yang dirasakan) oleh dirinya atau orang lain, serta dalam rangka menghukum/mencela orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman-Nya:
{قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرُكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ}

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan kemarahan orang-orang yang beriman” (QS at-Taubah: 14-15)”[31].

Penutup
Demikianlah tulisan ringkas ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan menjadi motivasi untuk selalu berusaha menundukkan hawa nafsu dan menahan kemarahan, agar kita terhindar dari segala keburukan.

Kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya untuk memiliki sifat-sifat yang baik dan mulia dalam agama-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

                                                                                          Kota Kendari, 28 Jumadal ula 1432 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com

[1] HSR Muslim (no. 2603).
[2] Lihat kitab “Syarhu Riyaadhish shaalihiin” (1/107) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/111).
[3] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 148).
[4] HSR al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609).
[5] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (16/162).
[6] Kitab “Faidhul Qadiir” (5/358).
[7] HSR Muslim (no. 2664).
[8] Lihat kitab “Syarhu Riyaadhish shaalihiin” (1/305) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/183).
[9] HR Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani rahimahullah.
[10] Dinukil oleh al-‘Azhiim Abadi dalam kitab “’Aunul Ma’buud” (13/95).
[11] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/111).
[12] Kitab “ar-Risalatut tabuukiyyah” (hal. 33).
[13] HSR al-Bukhari (no. 5765).
[14] Keterangan imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 144).
[15] Semua ucapan di atas dinukil oleh imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 145).
[16] Lihat keterangan imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 145).
[17] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/112).
[18] HSR al-Bukhari (no. 5764) dan Muslim (no. 2610).
[19] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).
[20] HR Ahmad (1/239) dan al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 245), dinyatakan shahih dengan penguatnya oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “ash-Shahiihah” (no. 1375).
[21] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).
[22] HR Abu Dawud (no. 4782), Ahmad (5/152) dan Ibnu Hibban (no. 5688), dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Hibban rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah.
[23] HSR Muslim (no. 1659).
[24] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/112).
[25] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).
[26] HSR al-Bukhari (no. 3367) dan Muslim (no. 2327).
[27] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/112).
[28] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 148).
[29] HSR Muslim (no. 746).
[30] HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 72).
[31] Kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 148).

sumber : http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2011/05/10/atasi-marahmu-gapai-ridha-rabb-mu/

Untuk-Mu Seluruh Napas Ini







Kehidupan kita hari sangat luar biasa. Dari hal yang terkecil sampai yang terbesar merupakan keajaiban yang tak mampu di cerna oleh akal, tetapi dapat dipercaya dengan Qalbu. Penciptaan manusia contohnya, berawal hanya dari dipertemukannya air Mani dan sel ovum bisa menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.

Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (QS. At-Tin: 3)
Tidak hanya itu, tetapi juga disempurnakan dengan kadarnya masing-masing dengan sesuai kegunaan dan fungsi dari setiap yang di bentuk. Memberikan Mata untuk Melihat, telinga untuk mendengar, Kaki untuk melangkah, semuanya disempurnakan dan juga ditentukan kadar kegunaannya

Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),  Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (QS. Al-A’laa: 3-4)

Wajar jika hari ini kita patut bersyukur hanya kepada yang telah menciptakan dan menyempurnakan ciptaan-Nya. Tetapi apakah kita sebagai yang diciptakan telah banyak bersyukur? Sebuah pertanyaan besar yang mungkin jawabannya mayoritas adalah belum. Kita menyalahgunakan kenikmatan dan keajaiban yang telah Allah berikan, kita menjadikan napas yang berhembus untuk benda atau seseorang yang sesungguhnya mereka pun belum tentu bisa menolong dirinya sendiri. Terutama terhadap manusia, secara tidak sadar kita telah menyembah thagut dari orang yang kita cintai. Tanpa orang di cintai dan kehilangan mereka kita merasa diri menjadi tak berarti dan tak bermanfaat. Tanpa ada sapa dan pertemuan dengan yang dicintai merasa tak ada lagi semangat dan kehidupan terasa hampa dan sunyi. Kita menjadikan diri kita sangat berguna dan bermanfaat karena tujuan kita hanya ingin dilihat oleh seseorang yang di cintai, ketika mereka telah tiada atau tak lagi mencintai kita, maka kita tak lagi berusaha menjadi yang berguna dan bermanfaat,

Padahal kita telah mengikrarkan diri dan berjanji kepada Allah SWT dalam setiap shalat-shalat yang kita lakukan, apakah Doa yang kita ikrarkan?

Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahirabbil ‘aalamiin.
Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.



Maka rasa syukur kita kepada Allah SWT atas keajaiban yang diberikan dalam hidup kita adalah seluruh Napas yang berhembus hanyalah Untuk Allah SWT dan atas syariat yang Allah turunkan. Inilah yang paling mulia, sehingga kita bisa menjadi manusia bermanfaat sekalipun manusia memusuhi kita karena kita memiliki sang Rabb semesta Alam, Untuk-Mu Seluruh Napas ini patut di tujukan hanya kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang selalu ingat dengan hambanya, kita menjadi manusia yang selalu berguna dan bermanfaat karena napas kita hanyalah untuk-Nya. Apalagi Allah akan memuliakan orang-orang yang menjadikan setiap hembusan napasnya hanya untuk mengabdi dan taat kepada Allah SWT. Bahkan kita akan merasakan kelezatan dalam hidup kita jika kita menjadikan dan mendedikasikan setiap napas ini hanya untuk Allah dan orang-orang yang mencintai Allah SWT.

“Kelezatan iman akan dirasakan oleh orang yang telah rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama.”

Mengutip dari Qadhi Iyadh, Imam Nawawi berkata: “Makna hadits ini adalah imannya benar, jiwanya tenang dan batinnya tenteram. Karena keridhaannya kepada hal-hal yang disebutkan itu merupakan bukti ma’rifatnya, ketajaman pandangannya dan keceriaan hatinya. Sebab orang yang ridha terhadap sesuatu pasti merasa mudah melakukannya. Demikian pula seorang mukmin, apabila iman telah masuk ke dalam hatinya maka akan mudah baginya melakukan berbagai ketaatan kepada Allah dan merasa lezat dengannya. Wallahu A’lam.”

Nabi SAW bersabda:

‘Tiga hal yang jika ada dalam diri seseorang, berarti telah merasakan lezatnya iman, yaitu ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun, mencintai seseorang karena Allah semata, dan benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dilempar ke neraka setelah diselamatkan Allah darinya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Bila di hatimu tidak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu. Karena Allah Maha Pemberi balasan.”

Maksudnya, Allah pasti membalas amal seseorang di dunia dengan kelezatan, pencerahan dan ketenangan yang ada di hatinya. Bila belum merasakan hal tersebut, berarti amalnya terkontaminasi.

Maka Untuk-Mu seluruh Napas ini.


Ketika Harta Menjadi Tujuan Utama






Suatu ketika nabi Isa ‘alaihis salam memberikan khutbah di hadapan kaumnya. Beliau mengingatkan bahwa hidup di dunia tidak lebih hanya sebagai perjalanan menuju alam yang lebih kekal, yaitu akhirat, sehingga tidak terlena memburu harta dan kemewahan dunia yang menjadi penghalang mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Diantara kaum itu ada tiga orang yang menyangkal khutbah Nabi Isa. Mereka adalah Wahed, Sane dan Sales. Diwakili Wahed, mereka berkata: “Hai anak Maryam! Bagi kami, surga tidak penting. Kami bisa hidup tenang dan bahagia tanpa agama. Asalkan banyak harta, pasti kami hidup tenang!”.
Dengan ramah, nabi Isa menjawab: “Harta tidak akan bisa menjamin ketenteraman hidup, saudara-saudaraku!”. Ketiga orang itu langsung menjawab: “Omong kosong! Kami sangat yakin hanya harta yang mampu membuat hidup menjadi bahagia!”.
“Jika memang demikian pendapat kalian, tidak mengapa. Kita buktikan saja. Setelah ini datanglah ke tempat saya, bertiga saja. Kita akan bicara, barangkali dada rizki untuk kalian”. Kata Nabi Isa.
Karena tahu bahwa nabi Isa tidak pernah berdusta, dengan gembira mereka datang. Nabi Isa memberi mereka sebuah peta tempat penyimpanan harta karus. Letaknya di puncak bukit terjal, dalam sebuah gua rahasia. Ketiganya merasa bergembira. Lalu dengan angan-angan yang tinggi mereka menuju tempat sesuai peta yang ditunjukkan oleh nabi Isa.
Dengan membawa bekal dan peralatan secukupnya mereka akhirnya sampai di depan gua rahasia itu. Mereka pun masuk. Dan apa yang ditunjukkan nabi Isa benar. Di sudut gua itu terdapat peti-peti berisi emas berlian dalam jumlah besar. Mereka pun berunding, bagaimana tentang cara yang terbaik untuk mengangkutnya dengan aman dan tidak diketahui orang lain. Akhirnya disepakati untuk membagi kerja. Secara bergantian mereka membawa turun harta ke sebuah hutan sepi di kaki bukit. Di sana ada rumah tua milik seorang pemburu yang telah lama ditinggalkan. Di sanalah emas dan berlian itu ditempatkan dan akan dibagi rata. 
Setelah semuanya selesai, mereka sudah siap untuk membagi harta karun itu seadil-adilnya. Tiba-tiba Sane mengusulkan untuk membeli makanan terlebih dahulu, karena merasa lapar setelah bekerja berat. Lagi pula perjalanan pulang sangat membutuhkan energi yang cukup untuk memikul harta, dan sangat berbahaya jika harus mampir di rumah makan sekadar untuk mengisi perut.
Ususan ini mereka sepakati dan yang diminta untuk mencari makanan adalah Wahed. Ia pun pergi meninggalkan kedua orang kawannya yang siap menjaga harta dari segala apa yang mengancam. Sesampai di perkampungan ia menemukan rumah makan. Karena perutnya yang sangat lapar, ia segera makan di rumah makan itu dan memesan dua porsi yang cukup untuk kedua temannya. 
Saat ia menyantap makanan, terbesit di benaknya untuk berbuat khianat. Ia berpikir bagaimana caranya agar harta karun tersebut 100% menjadi miliknya. Setelah perutnya dirasa kenyang ia membawa dua porsi makanan untuk temannya. Di tengah perjalanan ia mampir ke sebuah tempat yang menyediakan racun yang mampu membunuh dengan cepat. Racunpun didapatnya, lalu mencampurkannya kepada makanan yang akan diberikan kepada kedua temannya dengan sangat hati-hati, agar tidak niat jahatnya tidak diketahui kedua temannya. 
Sementara itu, Sane dan Sales yang bertugas menjaga harta karun, juga mempunyai niat jahat untuk menghabisi Wahed, agar harta karun itu hanya menjadi milik mereka berdua. Disepakatilah sebuah rencana membunuh Waled, dengan cara menebaskan parang saat ia memasuki pintu rumah. Sane dan Sales segera bersembunyi di balik pintu dengan parang terhunus siap menikam Wahed. Beberapa saat berlalu terdengar langkah Wahed mendekati pintu. Begitu Wahed masuk, dua parang Sane dan Sales beberapa kali menghujam tubuh Wahed hingga tewas seketika.
Sane dan Sales merasa lega, semuanya berjalan sesuai rencana. Mereka menyeret mayat Wahed ke belakang rumah dan menceburkannya ke dalam sumur tua yang ada di sana. 
Akhir sebuah cerita. Badan Sane dan Sales yang letih, penat, tegang ditambah perut yang lapar menjadi hilang, saat makanan yang dibawa Wahed siap untuk disantap. Tanpa berpikir panjang, mereka segera melahapnya. Baru beberapa suap makanan masuk ke dalam perut, napas mereka terasa sesak, tenggorokan seperti dibakar, dan busa mengalir dari mulut mereka. Beberapa derik kemudian, tubuh mereka kejang dengan begitu hebatnya dan mereka pun tewas menyusul teman yang mereka bunuh sendiri.
Emas dan berlian yang mereka kejar tetap teronggok di dalam rumah tua tanpa berkurang sedikitpun.

Ibadah, Antara Rasa Takut dan Rasa Harap


Di antara nikmat dan karunia Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) yang besar terhadap kita sebagai hamba-Nya adalah diutusnya seorang rosul ke tengah-tengah kita; yang mengajari, membimbing, dan memberi petunjuk ke jalan yang lurus sehingga kita dapat mengabdi kepada-Nya, Rabbul ‘ibad, dengan baik dan benar. Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rosul, yang menjadi saksi terhadapmu.” [QS. Al-Muzammil: 15].
“Dialah yang telah mengutus rosul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama.” [QS. At-Taubah: 33].
Dan Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) juga berfirman,
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rosul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (as-sunnah) [QS. Al-Jumu'ah: 2].

Segala bentuk ibadah akan terwujud dalam diri seorang hamba manakala memenuhi tiga landasan yang sangat mendasar: adanya hubb (kecintaan), khouf (takut), dan roja` (pengharapan). Orang-orang yang beribadah hanya karena pahala semata tanpa ada kecintaan dan rasa takut kepada-Nya, mereka telah tergolong ke dalam kelompok sesat Jahmiyyyah, sebaliknya orang-orang yang beribadah hingga terlena di dalamnya dengan kecintaan namun tidak ada rasa takut dari siksa-Nya dan mengharap akan pahalaNya, mereka tergolong ke dalam kelompok sesat Sufiyyah. Jadi yang benar adalah hendaknya beribadah kepada Allah dengan kecintaan kepadaNya, mengharap pahalaNya, dan takut akan siksaNya.

EKSISTENSI KHAUF DAN ROJA`
Khauf (rasa takut) dan roja` (rasa harap) adalah dua ibadah yang sangat agung. Bila keduanya menyatu dalam diri seorang mukmin, maka akan seimbanglah seluruh aktivitas kehidupannya. Bagaimana tidak, sebab dengan khauf akan membawa dirinya untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan; sementara roja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.
Pendek kata dengan khauf (takut) dan roja` (pengharapan) seorang mukmin akan selalu ingat  bahwa dirinya akan kembali ke hadapan Sang Penciptanya (karena adanya rasa takut), disamping ia akan bersemangat memperbanyak amalan-amalan (karena adanya pengharapan).
 Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan tuhan mereka (dengan sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” [QS. Al-Mukminun: 57-61].
‘Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) pernah bertanya kepada Rosulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) apakah mereka itu (yang dimaksud dalam ayat diatas, red) adalah orang-orang yang meminum khamr, berzina, dan mencuri? Rosulullah menjawab, “Bukan! Wahai putri Ash-Shiddiq. Justru mereka adalah orang-orang yang melakukan shoum, sholat, dan bershodaqah, dan mereka khawatir tidak akan diterima amalannya. Mereka itulah orang-orang yang bergegas dalam kebaikan.” [HR. At-Tirmidzi dari 'Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) ].
Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) juga berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.” [QS. Al-Anbiya': 90].

Hakikat Khauf

Khauf (takut) adalah ibadah hati, tidak dibenarkan khauf ini kecuali terhadap-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Khauf adalah syarat pembuktian keimanan seseorang.
Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman: “Sesungguhnya mereka itu tidak lain syaitan-syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 175].
Apabila khauf kepada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berkurang dalam diri seorang hamba, maka ini sebagai tanda mulai berkurangnya pengetahuan dirinya terhadap Rabb-nya. Sebab orang yang paling tahu tentang Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya.
Rasa khauf akan muncul dengan sebab beberapa hal, di antaranya: pertama, bila seorang hamba mengetahui dan meyakini hal-hal yang tergolong pelanggaran dan dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya; kedua, pembenarannya akan adanya ancaman Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) , bahwa Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan; ketiga, ia mengetahui akan adanya kemungkinan penghalang antara dirinya dan taubatnya.
Para ulama membagi khauf menjadi lima macam:
1. Khauf ibadah, yaitu takut kepada Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) , karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menahan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Di Tangan-Nya-lah kemanfaatan dan kemudharatan. Inilah yang diistilahkan oleh sebagian ulama dengan khaufus-sirr.
2. Khauf syirik, yaitu memalingkan ibadah qalbiyah ini kepada selain Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) , seperti kepada para wali, jin, patung-patung, dan sebagainya.
3. Khauf maksiat, seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan karena takut dari manusia dan tidak dalam keadaan terpaksa. Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)berfirman, “Sesungguhnya mereka itu tidak lain syaitan-syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 175].
4. Khauf tabiat, seperti takutnya manusia dari ular, takut singa, takut tenggelam, takut api, atau musuh, atau selainnya. Allah berfirman tentang Musa, “Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya).” [QS. Al-Qashash: 18].
5. Khauf wahm, yaitu rasa takut yang tidak ada penyebabnya, atau ada penyebabnya tetapi ringan. Takut yang seperti ini amat tercela bahkan akan memasukkan pelakunya ke dalam golongan para penakut.

Hakikat Roja’

Adapun roja` secara bahasa artinya harapan/cita-cita; sedangkan menurut istilah ialah bergantungnya hati dalam meraih sesuatu di kemudian hari. Roja` merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Memalingkannya kepada selain Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) adalah kesyirikan, bisa berupa syirik besar atau pun syirik kecil tergantung apa yang ada dalam hati orang yang tengah mengharap.
Roja (harapan/mengharap) tidaklah menjadikan pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan. Berkata Ibnul Qoyyim raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) dalam “Madarijus-Salikin”: “..bahwa roja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal”.
Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) juga berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada tuhannya.” [Al-Kahfi: 110].
Ibnul Qayyim raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) membagi roja` menjadi tiga bagian, dua di antaranya roja`,yang benar dan terpuji pelakunya, sedang yang lainnya tercela. Roja` yang menjadikan pelakunya terpuji, pertama: seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah, di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala-Nya; kedua: seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya. Adapun yang menjadikan pelakunya tercela: seseorang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan; roja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.
Roja` (rasa harap) menuntut adanya khauf (rasa takut)dalam diri seorang mukmin, yang dengan itu akan memacunya untuk melakukan amalan-amalan sholeh; tanpa disertai khauf, roja` hanya akan bernilai sebuah fatamorgana. Sebaliknya khauf juga menuntut adanya roja`; tanpa roja` khauf hanyalah berupa keputusasaan tak berarti.
Jadi, khauf dan roja` harus senantasa menyatu dalam diri seorang mukmin dalam rangka menyeimbangkan hidupnya untuk tetap istiqomah melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, mengharap pahala dan takut akan siksa-Nya. Keduanya (khauf dan roja`) ibarat dua sayap burung yang dengannya ia dapat menjalani kehidupannya dengan sempurna.
Wal ‘ilmu ‘indallah.

Sumber bacaan:
1. Al-Quranul Karim
2. Syarh Tsalatsatul Ushul
3. Taisirul Wushul ilaa Nailil ma’mul
4. Al-Madkhal Lid-dirosatil Aqidah Al-Islamiyyah
5. Madarijus-salikin
Sumber : Buletin Al Wara’ Wal bara’ ,  Edisi ke-6 Tahun ke-2 / 02 Januari 2004 M / 10 Dzul Qo’dah 1424 H, Judul asli “IBADAH, Antara Khauf dan Roja`”

Lembutkan Hati kami Yaa Rabb


Kami tahu kerasnya batu
Yang jika di sirami lembutnya air akan luruh
Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun

Tapi hati kami bukanlah batu
Tapi mampu keras melebihi batu kali
Yang jika di sirami beribu nasihat
Tak kan luruh meski zaman terus berganti
Atau bumi hanya tinggal mimpi

Hanya dengan timbunan tanah merah hati keras kami membumi
Ampuni kami, Rabbi
Tolong lembutkan hati kami
Sebelum nurani kami mati
Sebelum jasad ini menggamit perut bumi

Rabbi, mudahkan mata kami menangis
Mengingat khilaf kami yang tak tertandingi
Bukan menangis mengingati duniawi

Rabbi, lembutkan hati kami merenungi mati
Lembutkan hati kami mendengar nasihat-Mu Rabbi
Sungguh, hanya Engkau Sang Penggenggam hati
Peluk hati kami dalam cinta-Mu


Penggunaan Kata Insya Allah

 






Penggunaan kata “Insya Allah” untuk 3 fungsi yang benar, dan 1 fungsi yang salah:


(1) untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi dalam doa ziarah qubur (Dan Kami insyaa Allah akan menyusul kalian wahai penghuni kuburan). Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah ((Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki masjdil haram insyaa Allah dalam keadaan aman) QS Al-Fath : 27

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita, “Bulan depan saya akan umroh insyaa Allah”

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

(4) Yaitu salah penggunaan fungsi : Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tdk mau hadir, maka iapun berkata, “Insyaa Allah”

Atau tatkala diminta bantuan lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan malah digunakan untuk menolak



CONTOH KASUS

Ujian masuk Perguruan Tingi Negeri semakin dekat. Anthoe dan Buddy pun mempersiapkan diri mereka dengan cara memanggil guru private ke Rumah si Anthoe.

"Bud, nanti malam kita jadi les private di Rumahku 'kan?"

"Iyah, Insya Allah yah, Ntho."

"Loh? Kok Insya Allah pulak sih?"

"Ya Insya Allah lah! Insya Allah kan artinya nggak janji. Nggak pasti."

"Yaelah."

Nah, mungkin beberapa dari Anda beranggapan bahwa percakapakan ini biasa saja. Sekilas memang biasa saja karena kita sudah kebiasaan. Tapi ketahuilah, sebenarnya ini adalah hal yang SALAH.

Perhatikan baik-baik, pastikan tuas kind mood Anda dalam keadaan ON. Sering sekali kita mendengar orang menjadikan kata-kata "Insya Allah" menjadi sebuah tameng dengan maksud agar nantinya dia tidak berdosa jika janji tersebut tidak ditunaikannya dengan sengaja sejak awal berniat. Memang benar, namanya semua kejadian itu terjadi atas Izin Yang Maha Menjadikan. Tapi ada tapinya.

Tapi, ada pemahaman lain (yang ntah darimana) yang terbenak di ingatan banyak orang. Yaitu, kata-kata "Insya Allah" digunakan pada janji yang memang dia masih ragu untuk menunaikannya dan bahkan dia memang tidak mau menunaikan janji itu sama sekali. Ada orang mengucapkan "Iyah, Insya Allah iya" kepada orang lain seolah-olah dia mengatakan “Iyah, nggak janji iya”. Dia mengucapkannya cuma karena malu mau bilang "Aku nggak mau ikut ah, nggak bisa, males". Jadi dia menggunakan kata Insya Allah sebagai penggantinya.
Dia berkata seperti itu tanpa ada niat dan keyakinan kalau Allah yang punya kuasa. Sebut saja, tidak ikhlas. Tidak karena Allah. Lebih nyatanya, malah tidak ada usaha. Ironisnya, sedangkan banyak sebuah janji yang sangat ingin dia tunaikan dengan usaha tapi tidak disisipkan dengan kata "Insya Allah" di janjinya tersebut. Penyimpangan sikap inilah yang merubah perspektif si Anthoe dan si Buddy si atas.

Padahal Allah Swt. berfirman:
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini."  (QS. Al Kahfi :23-24)
Pastinya Allah bisa-bisa saja memberi kita petunjuk kalau kita berikhtiar, bukan ketika kita berbasa-basi. Jadi, kalu memang nggak mau membuat janji, mending jujur saja. Bilang "Nggak bisa" gitu. Jangan jadikan kata Insya Allah sebagai alasan untuk tidak mengerjakan sesuatu. Paling nggak, kita memang ada niat buat nepatin janji itu, terus di hati kita itu ada keyakinan semoga Allah dapat mengabulkannya, serta diikhtiarkan. Lalu sisipkan, "Insya Allah." Gitu loh.
 
 
CONTOH KASUS KE -2

Sering saya mendengar kata Insha Alah, tatkala orang diundang ke suatu acara, atau diminta bantuan. Sering nya kata itu diucapkan dan sering nya orang yang mengatakan Insha Allah itu tendensinya adalah tidak datang, maka saya menganggap penggunaan kata ini sudah salah kaprah, dipakai sebagai dalih saja, hanya sebagai ganti "maaf, saya tidak bisa datang".
 Sebenarnya berkata Insha Allah itu memang sudah diperintahkan dalam Al-Quran, surat apa ya, lupa, tapi inti nya jangan suka memastikan seuatu yang akan terjadi dimasa yang akan datang melainkan harus mengucapkan Insha Allah.

Tahun 2000 saya berkesempatan pergi menunaikan ibadah haji. Banyak kejadian yang dapat saya jadikan sebagai pelajaran untuk menjalani kehidupan sehari, hari, seperti pasrah,tidak boleh takabur,  juga pemakaian kata Insha Alla itu sendiri.
Kata pasrah itu bagi saya  sangat susah memaknainya, sampai mana harus berusaha dan sampai mana akhirnya harus pasrah.

Waktu itu, di dalam  rombongan kami, ada orang yang membawa Ibu dan juga mertua nya. Lucu nya, karena saya pergi sendirian, dengan entengnya orang itu menitipkan mertua nya kepada saya. Sang mertua rupanya termasuk cerewet juga, sedikit-sedikit komplain, pendek kata semua dikomentari , dikomplain, saya terima saja, mungkin ada dosa saya kepada orang tua terutama Ibu saya, jadi saya terima dengan ikhlas, pasrah saja. Di Bandara Cengkareng mau ke toilet mesti diantar dan ngomelnya itu saya yang nggak tahan, Ibu saya sendiri nggak begitu.

Sepanjang perjalanan dari Jakarta sampai ke Jedah dan selanjutnya ke Madinah, saya tidak berhenti istigfar atas semua kesalahan saya, sementara si Ibu itu makin tidak nyaman makin banyak komplain, tetapi yang terjadi di Madinah sungguh sangat diluar dugaan, begitu saya sedang turun dari bis, tiba-tiba tiga orang sebaya saya mengambil tas saya, "Mbak Siti sekamar dengan kita saja, kurang satu nih". Alhamdulillah ketemu teman sebaya, terbebaslah saya jadi guide Ibu itu karena kamarnya berjauhan.

Kalau cerita tidak boleh takabur itu begini, pembimbing kami sewaktu diJakarta selalu bilang "Ibu-ibu tenang saja ya, saya sudah 2 kali ke Mekah, jadi saya tahu betul keadaan disana" . Apa yang terjadi di Madinah sih jadi lain banget, kami nyasar waktu mencari pasar Kurma yang dekat dengan Mesjid Nabawi itu, padahal sehari sebelumnya kan kami tur dan lewat juga ke Pasar Kurma itu, saya ingat itu pasar letaknya dekat mesjid Nabawi, jadi patoka paling mudah ya masuk ke mesjid Nabawi kearah yang ada makam Rasulallah, tapi mungkin ujian dari Allah bahwa tidak boleh takabur. Allahu A'lam

Seperti kebanyakan orang saya juga dititipi untuk membeli sesuatu, jadi dikala ada waktu senggang , saya cari titipan barang itu, ketika saya sudah menemukan tempat barang itu dan tahu harga nya, karenna tidak membawa uang  kepada penjaga toko saya bilang "I'll be back tomorrow",  dia jawab Insha Allah, seketika saya jadi ingat ,  tidak boleh memasti-masti kan apa yang akan kita lakukan karena belum tentu dapat memenuhi nya , jadi saya ulangi, "Insha Allah, I'll be back tomorrow ". :)

Itu pelajaran berharga sekali bagi saya dan sangat berkesan bagi saya , baik soal pasrah, takabur dan dalam menerapkan kata Insha Allah dalam percakapan sehari-hari.
Nah, ngomong-ngomong, adakah teman-teman Anda yang menganut indikasi sesat kata "Insya Allah" ini? Kalau ada, boleh dong kita sharing ilmu ini ke mereka.

Agama Adalah Nasihat






Bismillahhirrohmanirrohim...


عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
 
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Derajat Hadits:

Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadits no. 55 dan no. 95.

Biografi Singkat Perawi Hadits:
Perawi hadits ini, Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berasal dari negeri Palestina, tepatnya di kota Bait al-Lakhm (Betlehem). Meninggal pada tahun 40 H. Beliau termasuk sahabat yang sedikit riwayat haditsnya, di dalam kutub as sittah (Kutub as-Sittah adalah enam buku inti yang menghimpun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, buku-buku itu adalah: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai dan Sunan Ibn Majah) beliau hanya memiliki sembilan hadits saja, di dalam shahih muslim hanya ada satu hadits saja yang beliau riwayatkan, yaitu hadits yang akan kita bahas kali ini, yang mana dia merupakan hadits yang paling masyhur di antara hadits-hadits yang beliau riwayatkan. (Lihat: Siyar A’lam an-Nubala, (II/442-448))

Kedudukan Hadits Ini:
Hadits ini merupakan salah satu hadits yang sangat agung kedudukannya, karena dia mencakup seluruh ajaran agama Islam, entah itu yang berkaitan dengan hak-hak Allah, hak-hak rasul-Nya maupun hak-hak umat manusia pada umumnya. (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 54).

Penjelasan Hadits:

«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ»

“Agama itu nasihat.”

Kata ad-dien dalam bahasa Arab mempunyai dua makna:

Pembalasan, contohnya firman Allah ta’ala, مَالِكِ يَوْمِ الدِّيـن Artinya: “Yang menguasai hari pembalasan“. (QS. Al-Fatihah [1]: 4)

Agama, contohnya firman Allah ta’ala, وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً Artinya: “Dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Adapun dalam hadits kita ini, yang dimaksud dengan kata ad-dien adalah: agama (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal: 135-136).

Kata an-nashihah berasal dari kata an nush-hu yang secara etimologi mengandung dua makna:
  1. Bersih dari kotoran-kotoran dan bebas dari para sekutu.
  2. Merapatnya dua sesuatu sehingga tidak saling berjauhan.
Adapun definisi an-nashihah secara terminologi dalam hadits ini adalah: Mengharapkan kebaikan orang yang dinasihati, definisi ini berkaitan dengan nasihat yang ditujukan kepada pemimpin umat Islam dan rakyatnya. Adapun jika nasihat itu diarahkan kepada Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya, maka yang dimaksud adalah merapatnya hubungan seorang hamba dengan tiga hal tersebut di atas, di mana dia menunaikan hak-hak mereka dengan baik.

Dalam memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “agama itu nasihat”, para ulama berbeda pendapat; ada yang mengatakan bahwa semua ajaran agama Islam tanpa terkecuali adalah nasihat. Sebagian ulama yang lain menjelaskan maksud dari hadits ini adalah bahwa sebagian besar ajaran agama Islam terdiri dari nasihat, menurut mereka hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« الدعاء هو العبادة »
 
“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud (II/109 no. 1479), at-Tirmidzi (V/456 no. 3372) dan Ibnu Majah (V/354 no. 3828), At-Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih, Ibnu Hajar dalam Fath al Bari, (I/49) berkata, sanadnya jayyid (bagus), Al-Albani berkata: shahih.)

Juga semisal dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« الحج عرفة »
 
“Haji adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi (III/228 no. 889), an-Nasai (V/256), Ibnu Majah (IV/477 no. 3015), Ahmad (IV/309) dan Ibn Khuzaimah (IV/257). Al-Albani berkata: shahih.)

Bukan berarti bahwa ibadah dalam agama Islam itu hanya berbentuk doa saja, juga bukan berarti bahwa ritual ibadah haji hanya wukuf di Arafah saja, yang dimaksud dari kedua hadits adalah: menerangkan betapa pentingnya kedudukan dua macam ibadah tersebut.

Akan tetapi jika kita amati dengan seksama hal-hal yang memiliki hak untuk mendapatkan nasihat -yang disebutkan dalam hadits ini- akan kita dapati bahwa betul-betul ajaran agama Islam semuanya adalah nasihat, tanpa terkecuali. Entah itu yang berkenaan dengan akidah, ibadah, maupun muamalah. (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 54-55)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja tidak langsung menjelaskan dari awal siapa saja yang berhak mendapatkan nasihat ini, agar para sahabat sendiri yang bertanya untuk siapakah nasihat itu. Tujuan metode ini -yakni metode melemparkan suatu masalah secara global kemudian setelah itu diperincikan-, adalah agar ilmu tersebut membekas lebih dalam. Hal itu dikarenakan tatkala seseorang mengungkapkan suatu hal secara global, para pendengar akan mengharap-harap perincian hal tersebut, kemudian datanglah perincian itu di saat kondisi jiwa berharap serta menanti-nantikannya, sehingga membekaslah ilmu itu lebih dalam di dalam jiwa. Hal ini berbeda jika perincian suatu ilmu sudah disampaikan kepada pendengar sejak awal pembicaraan. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 136)

قلنا: لِمَـنْ؟
 
Kami (para sahabat) bertanya, “Hak siapa nasihat itu wahai Rasulullah?”
Huruf lam dalam perkataan para sahabat لِمنْ fungsinya adalah untuk istihqaq (menerangkan milik atau hak), yang berarti: nasihat ini haknya siapa wahai Rasulullah? (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 55).
قال: لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم.
Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”.
 
Dalam jawaban beliau ini diterangkan bahwa yang berhak untuk mendapatkan nasihat ada lima:
 
 Pertama: Nasihat untuk Allah ta’ala

Nasihat untuk Allah ta’ala artinya: menunaikan hak-hak Allah baik itu hak yang wajib maupun yang sunnah (Ibid, lihat pula: Ta’dzim Qadr ash-Shalah, karya Muhammad bin Nashr al-Marwazy, II/691-692).
Hak-hak Allah yang wajib mencakup antara lain:

Beriman terhadap rububiyah Allah ta’ala, yang berarti: meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Rabb segala sesuatu, satu-satunya pencipta, Yang memberi rezeki, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang mendatangkan manfaat dan melindungi dari marabahaya, Yang mengabulkan doa, Yang Maha memiliki dan menguasai segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya (Taisir al- ‘Aziz al-Hamid, oleh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, hal 26). Allah ta’ala berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
 
“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 1)

Beriman terhadap uluhiyah Allah ta’ala, yang berarti: mengesakan Allah ta’ala dalam segala macam bentuk ibadah (Al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, karya Dr. Shalih al-Fauzan, hal 30). Jadi kita harus mengikhlaskan semua ibadah kita, mulai dari shalat, doa, kurban, sampai al-khauf (rasa takut), al-mahabbah (cinta), dan ibadah-ibadah yang lainnya. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Beriman terhadap asmaa’ (nama-nama) dan shifaat (sifat-sifat) Allah ta’ala. Maksudnya adalah: Mengesakan Allah ta’ala dalam nama-nama-Nya yang mulia serta sifat-sifat-Nya yang agung, yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, sembari mengimani makna dan hukum-hukumnya, tanpa mengotorinya dengan tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (berusaha mencari-cari caranya), atau tamtsil (meyakini bahwa sifat-sifat Allah seperti sifat-sifat para makhluk). Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
 
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 11). (Lihat: Mu’taqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Tauhidil Asma’ wash Shifat, karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, hal 31)

Melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan yang diharamkan-Nya. Ini adalah salah satu tanda rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya. (Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, karya Dr. Bandar al-’Abdaly, hal 37). Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ * قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
 
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 31-32)

Hal-hal yang wajib contohnya: mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, berdakwah kepada agama Allah dan lain-lain. Contoh larangan-larangan: syirik, berzina, bermain judi, dan lain sebagainya.
Tidak rela melihat larangan-Nya dilanggar, serta merasa bahagia jika melihat para hamba-Nya taat dalam menjalankan perintah-Nya (Ta’zhim Qadr ash-Sholah, II/692)

- bagian pertama -

Adapun hak-hak Allah yang sunnah, contohnya adalah:

Mengutamakan hal-hal yang dicintai oleh Allah ta’ala atas hal-hal yang dicintai oleh diri sendiri. Jika suatu saat seorang hamba dihadapkan kepada dua perkara salah satunya berkaitan dengan pribadinya dan yang lain berkaitan dengan hak Allah, maka dia mendahulukan yang merupakan hak Allah, serta mengakhirkan hak pribadinya (Ta’zhim Qadr ash-Sholah, II/692). Tentunya yang dimaksud di sini adalah perkara-perkara yang mustahab hukumnya.
Selalu mengingat bagaimana kelak di hari kiamat dia berdiri di hadapan Allah (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 56).

Kedua: Nasihat Untuk Kitab-Nya (al-Qur’an).

Nasihat untuk al-Qur’an maksudnya adalah: menjalankan hak-hak al-Qur’an, baik itu hak-hak yang wajib maupun yang sunnah hukumnya.

Adapun hak-hak al-Qur’an yang wajib antara lain:

Meyakini bahwasanya al-Qur’an itu betul-betul kalam (perkataan) Allah ta’ala, baik itu huruf-hurufnya maupun makna yang terkandung di dalamnya. Allah ta’ala benar-benar berfirman dengannya, lantas malaikat Jibril menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar dibacakan kepada umatnya Kita harus mengagungkan dan mencintainya karena dia adalah kalamullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, Allah berfirman,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

 
“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus”. (QS. Al-Israa: 9)

Beriman bahwasanya al-Qur’an adalah sebaik-baik perkataan, juga hukum-hukum yang terkandung di dalamnya adalah sebaik-baik hukum, tidak ada yang setara dengannya. Allah ta’ala berfirman,

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً

 
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an”. QS. Az-Zumar: 43.
Menjalankan perintah-perintah Allah yang Dia wajibkan di dalamnya, serta menjauhi larangan-larangan yang Dia haramkan atas umat-Nya di dalamnya.


Meyakini kebenaran berita-berita yang disebutkan di dalamnya, tanpa dicemari dengan keraguan sedikit pun. Jika Allah ta’ala telah memberitakan di dalamnya tentang adanya kehidupan sesudah dunia yang fana ini, kita pun harus mempercayainya, tanpa berusaha untuk memustahilkannya dengan otak kita yang terbatas. Sebagaimana yang diperbuat oleh para ahli filsafat dari dulu sampai sekarang, yang terlalu mendewakan akal mereka yang lemah. Allah ta’ala menceritakan perkataan nenek moyang mereka,

إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

 
“Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”. QS Al-An’am: 29.
Melindungi al-Qur’an dari ulah orang-orang yang menafsirkannya semaunya sendiri, serta membantah dan mengungkap kebatilan mereka.

(Lihat: Shiyanah Shahih Muslim, karya Ibnu ash-Sholah, hal 224, dan Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 136).


Sedangkan hak-hak al-Qur’an yang sunnah hukumnya, contohnya:
Memperbanyak dalam membaca, menghafalkan dan menghayatinya. Ini adalah salah satu bentuk merapatnya hubungan seorang hamba dengan kitab Rabbnya. (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 56). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan keutamaan membaca al-Qur’an dalam sabdanya,
اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya dia akan menjadi syafa’at di hari kiamat bagi orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim, I/553 no. 804)

Dan masih banyak hadits-hadits nabawi lainnya yang menceritakan keutamaan membaca kitabullah yang agung ini. Menilik besarnya keutamaan membaca al-Qur’an para salaf sangat memperhatikan hal itu, sebagai contoh: Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an setiap delapan hari sekali, Tamim ad-Daary radhiyallahu ‘anhu seminggu sekali, dan al-Aswad bin Yazid enam hari sekali. (Lihat: Fadhail al-Qur’an, karya Ibnu Katsir, hal 250-251)

Tentunya seorang muslim yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akheratnya tidak mencukupkan diri dengan hanya membaca dan menghafal al-Qur’an saja, akan tetapi dia juga berusaha semampunya untuk memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sebab hal itu akan melapangkan hatinya, mendatangkan rasa bahagia dan ketenangan jiwa, serta membantu agar bisa mengamalkannya.

Di antara faktor yang amat membantu seorang muslim dalam memahami kitabullah, adalah kembali kepada kitab-kitab tafsir di saat dia menemukan kesulitan. Tafsir Ibnu Katsir dan tafsir as-Sa’dy, merupakan salah satu pilihan terbaik seorang muslim yang ingin menghayati isi al-Qur’an (Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, hal 38). Ibnul Qayim dengan sangat piawai berpetuah, “Seandainya orang-orang tahu apa yang akan mereka petik jika mereka membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), niscaya dia akan menyibukkan diri dengannya dan tidak mempedulikan urusan lainnya. Di saat melewati suatu ayat, yang kebetulan dia sangat membutuhkannya untuk mengobati sebuah penyakit yang bercokol di hatinya, dia akan mengulang-ulanginya meskipun sampai seratus kali atau bahkan semalam suntuk. Membaca al-Qur’an dengan penghayatan dan pemahaman lebih baik daripada mengkhatamkan al-Qur’an tanpa merenungi dan memahami maknanya. Sebab tadabbur itu akan lebih bermanfaat untuk hati, lebih menambah keimanan, serta seorang hamba bisa lebih merasakan manisnya al-Qur’an.” (Miftah Daar as-Sa’adah, karya Ibnul Qayyim, I/553).


Mengajarkan al-Qur’an terhadap kaum muslimin dan memasyarakatkannya (Ta’dzim Qadr ash-Shalah (II/693), dan Qawa’id wa Fawa’id min al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Nadzim Muhammad Sulthan, hal 93). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghasung,

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

 
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya”.
Ketiga: Nasihat Untuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Nasihat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam al-Qurthuby tatkala beliau menafsirkan ayat: إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ “Jika mereka menunaikan nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya”. (QS. At-Taubah: 91). Beliau berkata: “Nasihat untuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti: mempercayai kenabiannya, senantiasa menaatinya di setiap perintah dan larangannya, mencintai siapa yang mencintainya serta memusuhi siapa yang memusuhinya, menghormatinya, mencintainya dan mencintai keluarganya, mengagungkannya serta mengagungkan sunah-sunahnya dengan cara menghidupkannya tatkala dia padam, mencari dan berusaha memahaminya, melindungi, menyebarkan dan mengajak umat manusia untuk kembali kepadanya, serta berusaha untuk berakhlak dengan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.” (Tafsir al-Qurthuby, VIII/210).

Jadi, nasihat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup berbagai hal, antara lain:

Meyakini bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allah ta’ala, dan beliau adalah Rasul yang jujur dan terpercaya, tidak berdusta maupun didustakan. Juga beriman bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang paling akhir yang merupakan penutup para nabi. Setiap ada yang mengaku-aku sebagai nabi sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dusta, palsu dan batil. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 137, Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, hal 38, Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 56)

Menaati perintahnya dan menjauhi larangan. Allah menegaskan,

وما آتاكم الرسول فخذوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

 
“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr: 7)

Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan, baik itu berupa berita-berita yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, karena hal itu adalah wahyu yang bersumber dari Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

 
Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. An-Najm: 3-4)

Beribadah kepada Allah dengan tata cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ditambah-tambahi ataupun dikurangi. Allah ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُول الله أسوة حسنةِ Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Juga Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
 
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. (HR. Muslim, III/1344 no. 1718)

Meyakini bahwa apa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setingkat dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dari segi keharusan untuk mengamalkannya, karena apa yang disebutkan di dalam as-Sunnah, serupa dengan apa yang disebutkan di dalam al-Qur’an (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 138). Allah ta’ala berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

 
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80)
Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau masih hidup, dan membela ajarannya setelah beliau wafat. Dengan cara menghapal, memahami dan mengamalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menghidupkan sunnahnya serta menyebarkannya di kalangan masyarakat.

Mendahulukan cinta kepadanya dari cinta kepada selainnya. Suatu hari Umar bin Khattab shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri!”. Nabi pun menyahut, “Tidak demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri!”. Maka Umar berkata, “Adapun sekarang demi Allah engkau betul-betul lebih aku cintai dari diriku sendiri!”. Nabi pun bersabda, “Sekarang baru (engkau benar-benar mencintaiku).” (HR. Bukhari no. 6632).


Akan tetapi jangan sampai dipahami bahwa cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membawa kita untuk bersikap ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga mengangkat kedudukan beliau melebihi kedudukan yang Allah ta’ala karuniakan kepada Nabi-Nya. Sebagaimana halnya perbuatan sebagian orang yang mengarahkan ibadah-ibadah yang seharusnya dipersembahkan untuk Allah ta’ala, dia persembahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya: beristighatsah dan memohon kepadanya, meyakini bahwa beliau mengetahui semua perkara-perkara yang ghaib, dan lain sebagainya. Jauh-jauh hari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam sikap ekstrim ini,

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم, إنما أنا عبده, فقولوا: عبد الله ورسوله
 
“Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani terlalu berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah (bahwa aku): hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari no. 3445)

Termasuk tanda mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mencintai orang-orang yang dicintainya. Mereka antara lain: keluarga dan keturunannya (ahlul bait), para sahabatnya (Asy-Syifa bita’rifi Huquq al-Mushthafa, karya al-Qadli ‘Iyadl (II/573), Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, (III/407), untuk pembahasan lebih luas silahkan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi (I/344-358)), serta setiap orang yang mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga masih dalam kerangka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah kewajiban untuk memusuhi setiap orang yang memusuhinya serta menjauhi orang yang menyelisihi sunnahnya dan berbuat bid’ah (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, 2/575, untuk pembahasan lebih lanjut silakan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi, I/359-361)

- bagian kedua -

Keempat: Nasihat Untuk Pemerintah Kaum Muslimin

Kata أَئِـمَّة (para pemimpin) jika diithlaqkan (digeneralisir/ tidak dibatasi), maksudnya adalah pemimpin dalam urusan pemerintahan (pemerintah), dan bukan pemimpin dalam ilmu agama (ulama), karena demikianlah istilah yang telah berlaku. (Pembahasan Nasihat untuk pemerintah kaum muslimin dapat melihat dalam kitab Mu’amalah al-Hukkam fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, karya Syaikh Dr. Abdussalam bin Barjas)

Beda dengan kata waliyyul amr, yang sesungguhnya pada asalnya berarti pemimpin tertinggi kaum muslimin; sebab waliyyul amr pada zaman khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhum) dan di zaman Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, mereka memadukan antara kepiawaian dalam mengurusi perkara duniawi dengan pemahaman yang mumpuni terhadap agama. Adapun sesudah zaman mereka, para ulama telah menjelaskan: bahwa waliyyul amr terdiri dari dua unsur; ulama dan umara (pemerintah) masing-masing menangani hal-hal yang menjadi keahliannya. Pemerintah menangani perkara-perkara duniawi kaum muslimin, sedangkan para ulama, mereka menangani perkara agama umat manusia. Demikianlah ceritanya bagaimana istilah waliyyul amr kemudian dipakai untuk ulama dan pemerintah, hal itu dikarenakan tampuk pemerintahan di zaman bani Umayah dan bani Abbas dan era sesudah mereka, banyak dipegang oleh para raja yang bukan ulama (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 58).
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bentuk nasihat kepada pemerintah, “Membantu mereka dalam mengemban amanat yang dibebankan kepadanya, mengingatkan mereka tatkala mereka lalai, menutupi kekurangan mereka tatkala keliru, menyatukan kalimat di bawah kepemimpinan mereka, mendekatkan hati yang menjauh dari mereka, dan merupakan nasihat yang paling agung bagi pemerintah melindungi mereka dengan baik dari kezaliman.” (Fath al-Bary, I/138)

Jadi, nasihat untuk pemerintah kaum muslimin berarti: menunaikan hak-hak mereka yang telah diterangkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 56), dan itu mencakup berbagai hal, antara lain (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 140-143):
Meyakini kepemimpinan dan kepemerintahan mereka, barang siapa yang tidak berkeyakinan demikian berarti dia belum dianggap menasihati pemerintah, karena orang yang tidak meyakini bahwa mereka adalah pemerintah, tidak mungkin dia akan mentaati perintah dan menjauhi larangan mereka. Maka kita harus meyakini kepemimpinan pemerintah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية

Artinya: “Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak membai’at (pemerintah) mati sebagaimana matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim, III/1478 no. 1851). Barang siapa yang berkuasa atas kaum muslimin walaupun dengan cara penaklukan, dia tetap dianggap pemimpin, entah dia berasal dari suku Quraisy maupun tidak.

Menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka di kalangan para rakyat, karena hal tersebut akan menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap pemerintah. Jika telah mencintai pemerintah, niscaya mereka akan mudah untuk taat terhadap peraturan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diperbuat oleh sebagian orang yang mempunyai hobi untuk menyebarkan aib-aib pemerintah dan menutup-nutupi atau pura-pura lupa akan kebaikan mereka, ini betul-betul perbuatan zalim dan ketidakadilan.


Menaati pemerintah baik dalam hal-hal yang diperintahkan maupun yang dilarang, kecuali jika hal tersebut merupakan maksiat kepada Allah, sebab kita tidak boleh menaati makhluk dalam hal yang dilarang oleh Khaliq. Perlu diketahui bahwa menaati pemerintah adalah merupakan suatu bentuk ibadah, dan bukan hanya sekedar untuk kepentingan politik. Dalilnya, Allah ta’ala telah memerintahkan hal itu,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

 
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amr di antara kalian”. QS. An-Nisa: 59. Allah ta’ala menjadikan hal itu dalam daftar perintah-perintahnya, segala yang diperintahkan Allah ta’ala adalah ibadah.

Perlu diingat bahwa bukan merupakan syarat ditaatinya pemerintah, sucinya mereka dari noda-noda maksiyat. Akan tetapi taatilah mereka meskipun mereka sendiri terjerumus ke dalam maksiyat, sebab kita diperintahkan untuk taat kepada mereka meskipun mereka sendiri berbuat maksiyat. Taatilah mereka dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama kita, adapun jika memerintahkan hal-hal yang terlarang dalam agama, maka tidak perlu kita taati dalam hal itu saja.

Berusaha menutupi aib-aib mereka semampunya. Bukan termasuk nasihat jika kita membeberkan aib-aib mereka, karena itu hanya akan menjadikan hati rakyat dipenuhi dengan rasa benci, dengki dan jengkel terhadap pemerintah. Jika hati telah dipenuhi dengan penyakit-penyakit tersebut di atas, akibatnya yang akan muncul adalah sikap durhaka. Bahkan mungkin pemberontakan terhadap pemerintah, yang mana hal itu akan menimbulkan kerusakan dan keburukan yang Allah Maha Mengetahuinya.


Nasihat tersebut harus disampaikan dengan lemah lembut dan kata-kata yang sopan, karena rata-rata tipe pemerintah merasa berat untuk menerima nasihat, kecuali jika disampaikan dengan penuh kelembutan. Sampai orang biasa pun kebanyakan mereka susah menerima nasihat, kecuali jika disampaikan dengan cara yang baik. Sebab jika nasihat itu disampaikan dengan kata-kata yang kasar, niscaya akan menyebabkan ditolaknya nasihat, padahal kita menginginkan kebaikan dari mereka. Di dalam wasiat Allah ta’ala kepada nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam tatkala akan mendatangi raja Fir’aun yang lalim, terdapat suri teladan yang bagus sekali untuk kita semua,

فَقُولا لَهُ قَوْلاً لَيِّناً لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

 
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Nasihat itu harus disampaikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan tidak di depan umum; karena pada asalnya yang namanya nasihat -baik itu untuk pemerintah maupun yang lainnya- harus disampaikan dengan sembunyi-sembunyi. Beda halnya dengan al-inkar (pengingkaran) yang disebutkan dalam hadits Abi Sa’id al-Khudry (من رآى منكم منكراً فليغيره بيده) “Barang siapa yang melihat kemungkaran hendaklah ia mengingkarinya dengan tangannya” (HR. Muslim no. 49 dan 78), yang pada asalnya pengingkaran itu dilakukan di depan umum. Adapun nasihat, maka pada asalnya disampaikan secara sembunyi-sembunyi. 

Maksud dari menyampaikan nasihat kepada pemerintah secara sembunyi-sembunyi adalah: penyampaian nasihat itu tidak diketahui kecuali oleh orang yang menyampaikannya, serta dia tidak berusaha menyebarluaskan kepada orang lain bahwa ia telah melakukan ini dan itu; sebab justru hal itu mungkin akan merusak maksud dari nasihat tersebut, bahkan mungkin malah menyebabkan si pemerintah enggan menerimanya, karena sudah terlanjur tersebar bahwa sang pemerintah telah dinasihati, dan lain sebagainya. Etika seperti ini telah diterangkan sejak empat belas abad yang lalu oleh panutan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

(من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية, ولكن يأخذ بيده, فإن قبل منه فذاك, وإلا كان قد أدى الذي عليه)

 
“Barang siapa yang ingin menyampaikan nasihat kepada penguasa, hendaknya jangan menyampaikannya di depan umum, akan tetapi genggamlah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasihat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya.” (HR. Ahmad (III/403) dan Ibnu Abi ‘Ashim (II/737 no: 1130, 1131). Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid berkata: “Rijalnya (para perawinya) tsiqat (terpercaya), dan sanadnya muttashil (bersambung)”, al-Albani berkata: “shahih”). Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk menerapkan petuah beliau. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya, “Bolehkah aku mengingkari (kesalahan) pemerintah di depan umum?. Beliau menjawab, “Jangan! Akan tetapi sampaikanlah secara sembunyi-sembunyi” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, (XV/75), al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman, (XIII/273) dan lain-lain, dishahihkan oleh Syaikh Dr. Abdussalam bin Barjas dalam Mu’amalah al-Hukkam fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, hal: 131). Di dalam Shahih Bukhari diceritakan, “Suatu saat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma pernah didatangi oleh sekelompok orang, lantas mereka berkata, “Nasihatilah Utsman!, tidakkah engkau melihat kondisi kita saat ini?”. Beliaupun menjawab, “Adapun aku, demi Allah, tidak ingin membuka pintu fitnah, sesungguhnya aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi.” (HR. Bukhari 7098 dan Muslim IV/2290). Dalil-dalil tersebut di atas menunjukkan bahwa nasihat kepada pemerintah harus disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Jika ada yang berkata, “Mustahil bisa masuk ke kantor presiden dan menyampaikan nasihat secara sembunyi-sembunyi kepadanya?”. Kita katakan, “Tulislah surat kepadanya, atau sampaikan nasihat tersebut lewat orang dekatnya, kalau tidak bisa juga, Allah ta’ala telah berfirman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا
 
“Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Jangan malah lantas menempuh jalan-jalan yang tidak disyari’atkan di dalam agama kita!. (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 57-58, untuk pembahasan lebih luas silahkan lihat: Mu’amalah al-Hukkam fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, hal: 103-132)

Jangan dipahami dari perkataan kita: menutupi aib, bahwa kita mendiamkan aib tersebut, akan tetapi kita berusaha untuk menasihati mereka secara langsung jika memungkinkan, atau dengan perantara orang-orang yang dekat dengan mereka, entah itu ulama ataupun orang yang memiliki kedudukan. Dan ini hukumnya fardhu kifayah, jika sebagian ulama atau yang semisal mereka telah melakukannya, maka kewajiban tersebut akan jatuh dari umat yang lain. Kemudian perlu diketahui bersama, bahwa menasihati pemerintah ada etikanya tersendiri, antara lain:

Tidak melakukan kudeta atau pemberontakan terhadap pemerintah, walaupun mereka kolusi, korupsi, nepotisme atau berbuat maksiat lainnya. Imam an-Nawawi menjelaskan, “Adapun memberontak dan memerangi pemerintah, maka hal itu termasuk perbuatan yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, meskipun pemerintah tersebut fasik dan zalim. Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan hal tersebut. Ahlus sunnah telah berijma’ bahwa kekuasaan pemerintah tidak dicabut dari mereka (hanya) dengan kefasikan mereka.” (Syarh Shahih Muslim, XI-XII/432, hadits no. 432).
Jika penguasa berbuat kekufuran.


Perbuatan kekufuran itu benar-benar nyata dan tampak dari si penguasa, bukan hanya berdasarkan kabar burung.


Ada dalil yang jelas bahwa perbuatan itu betul-betul perbuatan kufur, dan bukan termasuk perkara yang diperselisihkan kekufurannya oleh para ulama.

Menegakkan hujjah (menerangkan dalil-dalil kekufuran perbuatan yang penguasa kerjakan, sampai dia betul-betul mengerti bahwa yang dia perbuat adalah kekufuran, hingga tidak tersisa sama sekali syubhat-syubhat di kepala dia).


Rakyat yang berkudeta harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menggulingkan penguasa yang ada, serta menggantinya dengan seorang muslim. (Lihat: Fath al-Bary, XIII/9).

Kudeta tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan tetap berkuasanya penguasa yang kafir tersebut. Entah kerusakan itu berbentuk melayangnya nyawa orang-orang yang tidak berdosa, pelecehan terhadap kehormatan wanita, ataupun kerusakan-kerusakan lainnya. “Barangkali tidak pernah dikenal dalam sejarah, setiap terjadi kudeta, melainkan selalu menimbulkan kerusakan yang lebih parah daripada kerusakan yang dimaksudkan untuk dihilangkan” (Minhaj as-Sunnah, karya Ibnu Taimiyah, III/391) (Syarh Syaikh Ibrahim ar-Ruhaily terhadap Riyadhush Shalihin (kaset)).


Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu semata-mata hanya untuk maslahat pemerintah saja. Tentunya ini suatu anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan faedah dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta, belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi carut marut yang pernah dialami tanah air kita, tatkala sebagian orang ‘mengumandangkan lagu reformasi’, beberapa tahun yang silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik tidak menentu dan masih banyak kerugian-kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta atau pemberontakan adalah demi maslahat rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan, bukan semata-mata untuk kepentingan sebagian pihak. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain -sebagaimana dalam istilah Jawa-, dalam rangka mewujudkan negara yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera).

Senada dengan perkataan Imam Nawawi, penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, tatkala menukil perkataan Ibnu Baththal, “Di dalam hadits ini (Maksudnya hadits no. 7054 yang berbunyi, “Barang siapa yang melihat dari pemerintahnya sesuatu yang ia benci, hendaklah bersabar. Karena barang siapa yang memisahkan dari jama’ah kaum muslimin satu jengkal saja kemudian ia mati, niscaya ia mati sebagaimana matinya orang jahiliyah”) terdapat dalil tentang dilarangnya memberontak kepada penguasa meskipun mereka bertindak lalim. Para fuqaha’ (ahli fiqih) telah berijma’ tentang wajibnya menaati as-sulthan al-mutaghallib (penguasa yang berhasil merebut kekuasaan pemerintah sebelumnya) juga wajibnya jihad bersama mereka. Taat kepada mereka lebih baik daripada melakukan kudeta; karena dengan itu jatuhnya korban jiwa dapat terhindari, serta rakyat akan hidup aman dan tenteram. Para fuqaha dalam hal ini berdalilkan dengan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semisal, mereka sama sekali tidak memberikan dispensasi dalam masalah ini kecuali jika penguasa melakukan kekufuran yang nyata” (Fath al-Bary, XIII/9). 

Di antara hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan prinsip ini,

(من ولي عليه والٍ فرآه يأتي شيئاً من معصية الله, فليكره ما يأتي من معصية الله, فلا ينـزعن يداً من طاعة)
 
“Barang siapa yang dipimpin oleh seorang penguasa, kemudian ia melihatnya berbuat maksiat, hendaknya membenci perbuatan maksiat tersebut, tapi janganlah hal itu menyebabkan dia tidak menaatinya) (HR. Muslim no. 1855).

Juga tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya bagaimana menyikapi pemerintah yang tidak menunaikan hak-hak rakyatnya, Beliau menjawab,

(أدوا الحق الذي عليكم, وسلوا الله الذي لكم)
 
“Tunaikanlah kewajiban kalian, dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 7054 dan Muslim no. 1843)

Adakah penjelasan yang lebih jelas dari dua mutiara nabawi tersebut di atas?.

Kemudian, di akhir keterangan Ibnu Baththal tersebut di atas, telah disinggung kapan bolehnya kudeta terhadap pemerintah, yakni di saat mereka melakukan perbuatan kufur yang nyata. Hal itu berlandaskan hadits shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu,

(بايعنا رسول الله على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفراً بَواحاً عندكم من الله فيه برهان)
 
“Kami telah berbai’at kepada Rasulullah untuk selalu mendengar dan mentaati (pemerintah), baik itu di saat kami semangat maupun di saat kami tidak suka, baik di saat kita dalam keadaan susah maupun senang, ataupun di saat mereka bernepotisme. Juga tidak memberontak kepada pemerintah, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata di dalam diri mereka, berlandaskan dalil yang meyakinkan (bahwa perbuatan itu adalah perbuatan kufur)”.
(Bai’at adalah: perjanjian antara umat dengan nabi atau penguasa untuk selalu mendengar dan ta’at. Syarh Syaikh Ibrahim ar-Ruhaily terhadap Riyadhush Shalihin (kaset))
Di dalam hadits ini dan hadits-hadits lain terdapat patokan-patokan yang jelas kapan seorang rakyat boleh berkudeta:

Mendoakan kebaikan untuk mereka. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Seandainya aku hanya memiliki satu doa saja yang dikabulkan oleh Allah ta’ala, niscaya akan kutujukan kepada pemerintah.” (Hilyah al-Auliya’, karya Abu Nu’aim, VIII/91).


Kami rasa perlu juga disebutkan di makalah ini, bentuk nasihat terhadap ulama, karena sebagian kitab-kitab yang menjelaskan kitab al-Arbain an-Nawawiyah ini juga menerangkan di dalamnya bentuk nasihat terhadap ulama. Sebelum lebih lanjut memasuki pembahasan ini, perlu diterangkan siapa sebenarnya ulama yang dimaksud dalam pembahasan kita ini?. Mereka adalah para ulama yang Rabbani, yaitu yang mewarisi ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibadahnya, akhlaknya serta metode dakwahnya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 138)

Adapun nasihat untuk ulama tersebut di atas, adalah berupa:
Mencintai mereka, karena jika kita tidak mencintai seseorang, tidak mungkin kita akan meneladaninya.
Membantu mereka dalam menerangkan al-haq, dengan cara menyebarluaskan buku-buku mereka dengan berbagai macam media yang memungkinkan.


Berusaha untuk membela kehormatan mereka. Jika ada seseorang yang menisbatkan suatu perkara yang buruk kepada mereka, maka sikap kita adalah:
Tatsabbut (klarifikasi/memastikan) kebenaran penisbatan perkara tersebut kepadanya. Betapa banyak hal-hal yang dinisbatkan kepada seorang alim, padahalnya sebenarnya hal itu adalah dusta. Jika hal itu benar, maka kita akan memasuki langkah selanjutnya, yaitu:
Meneliti dengan cermat apakah hal itu merupakan sesuatu yang perlu dikritik?. Karena betapa banyak perkara yang pada awalnya kita kira salah, setelah lebih kita dalami ternyata hal itu adalah haq.
Jika ternyata hal itu bukan termasuk perkara yang perlu dikritik, maka kewajiban kita selanjutnya adalah: membela mereka dan menyebarluaskan kenyataan yang benar di antara umat, serta kita terangkan kepada mereka bahwa ‘alim ini berada di atas kebenaran, meskipun menyelisihi apa yang diperbuat oleh kebanyakan orang.


Jika setelah kita perdalam ternyata hal itu termasuk yang perlu dikritik, dan benar penisbatannya kepada ‘alim itu, maka kewajiban kita adalah: berusaha menghubunginya dengan penuh adab dan penghormatan, sambil berkata, “Kami mendengar ini dan itu tentang antum, maka kami ingin mengetahui duduk sisi perkara tersebut, karena antum lebih ‘alim dari kami”. Jika dia menerangkan permasalahan tersebut, maka kita berhak untuk berdiskusi dengannya, tentunya dengan adab dan penuh penghormatan, sesuai dengan kedudukannya, dan sesuai dengan hal yang pantas untuknya. 

Hal ini amat bertolak belakang dengan yang diperbuat oleh sebagian orang, tatkala mereka mendatangi seorang ‘alim yang menyelisihi pendapatnya, mereka datang dengan kasar dan keras, malah barangkali memukul wajah sang ‘alim sembari berkata, “Mengapa kamu buat perkataan yang baru ini?!” “Mengapa kamu mengatakan pendapat yang mungkar ini?” “Apakah kamu tidak takut kepada Allah?!”. Kemudian setelah mencermati duduk perkaranya, ternyata justru perkataan sang ‘alim tersebut yang sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan merekalah yang menyelisihinya. Kebanyakan kasus ini terjadi disebabkan kekaguman mereka terhadap diri mereka sendiri, dan perasaan bahwa merekalah yang ahlus sunnah, merekalah yang berada di atas manhaj salaf. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang paling jauh dari jalan salaf dan sunnah. Orang jika mengagumi dirinya sendiri -semoga Allah melindungi kita dari penyakit ini- dia akan memandang orang lain bagaikan seekor semut kecil. Hati-hatilah dari perkara ini!.


Jika kita melihat suatu kesalahan dalam diri seorang ulama, janganlah kita mendiamkannya dengan alasan bahwa beliau lebih tahu permasalahan dari kita. Akan tetapi diskusikanlah perkara tersebut dengan penuh adab dan penghormatan. Karena terkadang seorang manusia tidak mengetahui suatu hukum, jika diperingatkan oleh orang lain yang notabene berada di bawahnya dalam tingkatan ilmu, dia akan tersadar. Perhatikanlah, ini merupakan salah satu bentuk nasihat terhadap ulama.


Memberikan informasi kepada para ulama tentang permasalahan seputar mendakwahi umat, yang bisa membawa kebaikan. Jika kita melihat seorang ulama amat bersemangat dalam berdakwah, selalu menasihati umat di segala waktu dan tempat, sehingga masyarakat merasa jenuh dan berkata, “Ulama itu telah memberatkan kita”, maka merupakan salah satu bentuk realisasi nasihat terhadap ulama, kita beritahukan kepadanya, “Hendaklah berbicara sesuai dengan situasi dan kondisi”. Dan ini sama sekali tidak termasuk usaha untuk menghalangi penyebarluasan ilmu, bahkan ini salah satu usaha untuk melestarikan ilmu, karena jika masyarakat merasa jenuh, akibatnya mereka akan bosan terhadap ulama dan ceramah-ceramahnya. Oleh karena itu kita dapatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu memperbanyak nasihat-nasihatnya kepada para sahabat, karena ditakutkan akan membuat mereka merasa bosan (HR. Bukhari, no. 68). Padahal untaian kata-kata beliau dicintai oleh mereka. Seyogyanya dalam bersikap dengan masyarakat, kita bagaikan seorang penggembala; memilih hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi mereka.
Kelima: Nasihat Untuk Kaum Muslimin.


Imam an-Nawawy menguraikan penjelasan tentang nasihat untuk kaum muslimin dengan perkataannya, “Memberikan petunjuk kepada mereka terhadap hal-hal yang membawa kebaikan dalam perkara duniawi dan ukhrawi. Tidak menyakiti mereka. Mengajari hal-hal agama yang belum mereka ketahui. Membantu mereka dengan perkataan dan perbuatan. Menutupi aurat dan kekurangan mereka. Melindungi mereka dari marabahaya, serta berusaha mendatangkan manfaat. Menyuruh mereka terhadap kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dengan lemah lembut dan penuh keikhlasan. Menaruh belas kasihan kepada mereka. Menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Menyampaikan nasihat yang baik kepada mereka, juga tidak iri atau menipu mereka. Senang mendatangkan kebaikan untuk mereka, sebagaimana kita senang mendatangkannya untuk diri sendiri, juga membenci tertimpanya mereka dengan keburukan, sebagaimana kita benci jika kita tertimpa keburukan. Melindungi harta, kehormatan serta keadaan mereka yang lain dengan ucapan dan perkataan kita. Menghasung mereka untuk berakhlak dengan hal-hal yang telah kita sebutkan. Menggugah semangat mereka untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Sampai-sampai sebagian salaf rela mengorbankan kepentingan duniawinya, demi tersampaikannya nasihat kepada kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, I/239)

Dan nasihat itu tidak terbatas hanya untuk umat Islam saja, akan tetapi juga harus disampaikan kepada golongan non muslim. Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selalu menasihati kaumnya yang notabene orang-orang musyrik. Beliau mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki untuk menyelamatkan mereka dari kegelapan syirik dan paganisme (pemujaan terhadap berhala), hingga beliau menghadapi cobaan dan siksaan yang bertubi-tubi tatkala meniti jalan tersebut. (Qawa’id wa Fawa’id, hal: 94)
Beberapa Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Hadits Ini (Lihat: Syarh al-Arba’in, oleh Syaikh al-Utsaimin, hal: 143-145):

Pentingnya menyampaikan nasihat dalam lima perkara tersebut di atas, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai agama.
Metode pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat bagus, tatkala memulainya dengan sesuatu yang global, kemudian setelah itu menyampaikannya secara terperinci.


Semangat para sahabat dalam menuntut ilmu, mereka selalu menanyakan setiap hal yang dibutuhkan umat.
Memulai segala sesuatu dari hal yang paling penting kemudian yang penting. Ini ditunjukkan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan menerangkan nasihat untuk Allah, kemudian untuk al-Qur’an, untuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk pemerintah, ditutup dengan nasihat untuk kaum muslimin. Al-Qur’an didahulukan atas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena al-Qur’an akan kekal, adapun Rasul maka ia meninggal. Dan itu tidak menutupi adanya kaitan yang amat erat antara nasihat untuk Rasul dengan nasihat untuk al-Qur’an. Sebab barang siapa yang menunaikan nasihat untuk al-Qur’an berarti ia telah menunaikannya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian sebaliknya.

Hadits ini mengisyaratkan keharusan dipimpinnya suatu komunitas muslim oleh seorang pemimpin.

Daftar Pustaka:
  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
  2. Ad-Durar as-Saniyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, Dr. Bandar bin Nafi’ al-’Abdaly.
  3. Al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan.
  4. Al-Jami’ fi Ahkam al-Qur’an, al-Qurthuby.
  5. Al-Mushannaf, Ibn Abi Syaibah.
  6. As-Sunnah, Ibn Abi ‘Ashim.
  7. Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, al-Qadhi al-’Iyadh.
  8. Fadhail al-Qur’an, Ibnu Katsir.
  9. Fath al-Bary fi Syarh Shahih al-Bukhary, Ibnu Hajar al-’Asqalany.
  10. Hilyah al-Auliya’, Abu Nu’aim al-Asfahany.
  11. Huquq an-Nabi ‘ala Ummatihi fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah, Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimy.
  12. Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah.
  13. Miftah Dar as-Sa’adah, Ibnu Qayim al-Jauziyah.
  14. Minhaj as-Sunnah, Ibn Taimiyah.
  15. Mu’amalah al-Hukkam fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah, Dr. Abdussalam bin Barjas al-Abdul Karim.
  16. Mu’taqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa ash-Shifat, Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimy.
  17. Musnad Ahmad, Ahmad bin Hambal.
  18. Qawa’id wa Fawaid min al-Arbain an-Nawawiyah, Nadzim Muhammad Sulthan.
  19. Shahih al-Bukhary, Muhammad bin Ismail al-Bukhary.
  20. Shahih Ibnu Khuzaimah, Ibnu Khuzaimah.
  21. Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj.
  22. Shiyanah Shahih Muslim, Ibnush Shalah.
  23. Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahaby.
  24. Sunan Abi Dawud, Sulaiman bin Asy’ats as-Sijistany.
  25. Sunan at-Tirmidzy, Abu Isa at-Tirmidzy.
  26. Sunan Ibn Majah, Ibn Majah al-Qazwiny.
  27. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
  28. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, Shalih Alu Syaikh.
  29. Syarh Riyadh ash-Shalihin, Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily (kaset).
  30. Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syaraf an-Nawawy.
  31. Syu’ab al-Iman, al-Baihaqy.
  32. Ta’dzim Qadr ash-Shalah, Muhammad bin Nashr al-Marwazy.
  33. Taisir al-Aziz al-Hamid, Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab.
Artikel di atas ini adalah Copy Paste dari :
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/agama-adalah-nasihat-1.html
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/agama-adalah-nasihat-2.html
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/agama-adalah-nasihat-3.html
yang ditulis oleh : Ustadz Abdullah Zaen, Lc.

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com